Kamis, 27 November 2014

Mencari cangkul yang sudah pensiun

Menaruh harap itu seperti menanam sebuah bibit di dalam tanah.Kalau kita beruntung ,kita mendapatkan bibit yang baik.Bibit itu itu akan tumbuh menjadi tunas ,dan jika kita tahu cara yang benar untuk merawatnya,tunas itu akan tumbuh subur menjadi sebuah pohon.Kita dapat menikmati keindahan bunganya atau bahkan manisnya buah yang di hasilkan oleh pohon tersebut.

Sebaliknya,kalau kita belum beruntung,kita akan mendapatkan bibit yang buruk,yang mungkin tak akan pernah tumbuh sesenti pun.Padahal  bisa jadi kita pandai dan sabar merawatnya,tapi semua itu sia sia.Sampai seribu tahun pun ,kita tak akan dapat menikmati apa pun.Jangan  bermimpi untuk melihat sehelai anak daun yang tumbuh dari bibit tersebut.

Manusia tak perlu suka berkebun atau bercocok tanam untuk mengerti resiko dari berharap .Ketulusan,kesabaran ,keiklasan,dan keuletan saja kadang tak cukup untuk memenuhi sebuah harap.Ada faktor lainya yang disebut *keberuntungan* .Bibit yang kita tanam itu tak mungkin bisa kita tanyai,"Apakah kau akan berakhir dengan kesia-siaan ,ataukah kau layak untuk kusiangi dan ku rawat sepenuh hati?.Tidak,sayangya kita tak bisa melakukan nya.Hanya waktu yang dapat membuktikan,apakah bibit itu memang benar-benar unggul atau bibit itu adalah bibit yang mandul.

Tak ada jaminan yang pasti dari setiap perjuangan yang kita lakukan.Karenanya kalau kita bijak,kita akan membuat tenggat waktu.Untuk apa menanti sesuatu yang tak akan bertunas?.Atau,apa salahnya sebentar saja sabar menunggu untuk sesuatu yang buahnya manis di kemudian hari.

Hidup itu,perjuangan itu,penantian itu,semuanya adalah judi.Jangan pertaruhkan semua uangmu di atas meja.Lebih baik gunakan uang yang masih tersis untuk membeli benih lainya.Satu hal yang pasti,jangan pernah lelah untuk berharap,karena kesialan dan keberuntungan memang datang silih berganti.

Lain kali tanam bibitmu di tanah yang lebih subur,mungkin?

Yang penting tanam sajalah dulu.Ayo mana cangkulmu yang sudah lama kau pensiunkan???

Selasa, 18 November 2014

Mencari yang sempurna

Mencari yang sempurna tak akan ada punahnya,

Karenanya aku berakhir pada hatimu.

Mencari yang sempurna tak akan ada habisnya,

Karenanya aku berhenti pada cintamu.

Ada peyempuan yang begitu rupawan, 

Kau pilih, namun ia tak bisa menyajikan cinta pada meja makan

Lalu kau pergi untuk itu.

Ada peyempuan yang sangat jelita, juga pandai meracik masakan

Kau pilih, namun ia tak bisa kau ajak bertukar pikiran

Lalu kau pergi untuk itu.

Ada peyempuan yang begitu menawan, lihai membuat panganan dan asik berbagi wawasan

Kau pilih, namun ia tak memilihmu, kasihan.

Lalu kau terdiam karena itu.

Jelas, ia menawan, pandai meracik masakan dan asik bertukar pikiran

Namun kau tak terlihat tampan, tak cukup mapan dan tak romantis menaklukkan perasaan.

Seperti itulah lingkaran kesempurnaan,

Tak pernah berakhir sampai kau putuskan untuk berhenti pada sati hati dan cinta

Bukan tak ingin kesempurnaan,

Tapi aku tahu, mencarinya telah membuat banyak hati menjadi perih dan patah

Sabtu, 15 November 2014

Tetrodotoksin

Rindu adalah pisau yang tak kasat mata,yang menembus jantung hingga perasaan tak lagi di aliri darah.

Mati
Putih
Pucat
Dan seperti seorang mayat hidup,amh berjalan.Kakiku terus melangkah,karena hidup masih berlangsung.

Gontai
Limbung
Sendiri

Sementara kau masih saja diam.Aku harap semuanya baik baik saja.klise,memang seperti kalimag pembuka surat.

Memikirkanmu
Merindukanmu
Menginginkanmu

Ah mungkin ini harapan sia sia.Tapi jika semua kata dan harap adalah doa ,lalu apakah pernah ada doa yang berakhir sia sia,Tuhan?