Menaruh harap itu seperti menanam sebuah bibit di dalam tanah.Kalau kita beruntung ,kita mendapatkan bibit yang baik.Bibit itu itu akan tumbuh menjadi tunas ,dan jika kita tahu cara yang benar untuk merawatnya,tunas itu akan tumbuh subur menjadi sebuah pohon.Kita dapat menikmati keindahan bunganya atau bahkan manisnya buah yang di hasilkan oleh pohon tersebut.
Sebaliknya,kalau kita belum beruntung,kita akan mendapatkan bibit yang buruk,yang mungkin tak akan pernah tumbuh sesenti pun.Padahal bisa jadi kita pandai dan sabar merawatnya,tapi semua itu sia sia.Sampai seribu tahun pun ,kita tak akan dapat menikmati apa pun.Jangan bermimpi untuk melihat sehelai anak daun yang tumbuh dari bibit tersebut.
Manusia tak perlu suka berkebun atau bercocok tanam untuk mengerti resiko dari berharap .Ketulusan,kesabaran ,keiklasan,dan keuletan saja kadang tak cukup untuk memenuhi sebuah harap.Ada faktor lainya yang disebut *keberuntungan* .Bibit yang kita tanam itu tak mungkin bisa kita tanyai,"Apakah kau akan berakhir dengan kesia-siaan ,ataukah kau layak untuk kusiangi dan ku rawat sepenuh hati?.Tidak,sayangya kita tak bisa melakukan nya.Hanya waktu yang dapat membuktikan,apakah bibit itu memang benar-benar unggul atau bibit itu adalah bibit yang mandul.
Tak ada jaminan yang pasti dari setiap perjuangan yang kita lakukan.Karenanya kalau kita bijak,kita akan membuat tenggat waktu.Untuk apa menanti sesuatu yang tak akan bertunas?.Atau,apa salahnya sebentar saja sabar menunggu untuk sesuatu yang buahnya manis di kemudian hari.
Hidup itu,perjuangan itu,penantian itu,semuanya adalah judi.Jangan pertaruhkan semua uangmu di atas meja.Lebih baik gunakan uang yang masih tersis untuk membeli benih lainya.Satu hal yang pasti,jangan pernah lelah untuk berharap,karena kesialan dan keberuntungan memang datang silih berganti.
Lain kali tanam bibitmu di tanah yang lebih subur,mungkin?
Yang penting tanam sajalah dulu.Ayo mana cangkulmu yang sudah lama kau pensiunkan???
Tidak ada komentar:
Posting Komentar